Negeri 1000 Jeruji

Korupsi beritanya tiada akhir dan selalu saja berhasil diungkap oleh aparat penegak hukum dan KPK. Dalam satu bulan saja, ada saja pejabat yang didakwa dan divonis korupsi oleh pengadilan. Yang terakhir adalah Fuad Amin, mantan Ketua DPRD dan Bupati Bangkalan Madura telah divonis 8 tahun penjara. Belum lagi yang sedang proses di pengadilan seperti Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho. Itu artinya daftar koruptor semakin bertambah ibarat patah satu tumbuh seribu. Apakah pelaku korupsi sudah tidak malu pada keluarga terutama anak-anaknya.

Indonesia, negara seribu candi, seribu pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, terdapat seribu masjid di pulau Lombok, dan seribu kenekaragaman hayati. Begitu kayanya negeri ini, namun akankan remaja sekarang menjadi generasi mendatang yang masih menikmatinya. Negara ini terus melangkah menuju usia yang makin bertambah, bertambah pula tantangan dan hambatan.

“Semakin tinggi pohon kelapa, semakin besar pula tiupan angin yang dihadapi”.

 Kalau kita cermati kehidupan para koruptor yang telah divonis hakim, mereka mempunyai keluarga juga anak. Sepertinya mereka para koruptor lupa bahwa anak adalah titipan atau amanah dari Tuhan. Anak yang oleh John Locke diibaratkan seperti kertas kosong, orang tuanya yang akan menulis dan memberikan gambar. Akhirnya baik buruknya anak tergantung orang tuanya. Lalu kalau orang tuanya koruptor, apa yang mau diajarkan?

Seorang anak tidak pantas disalahkan atas kesalahan bapak atau ibunya. Dan seorang anak tidaklah layak mewarisi utang dari orang tuanya. Anak akan hidup di masanya sendiri yang berbeda dengan situasi dan kondisi jaman orang tuanya. Jadi apakah remaja bangsa ini akan diwarisi utang dan kemiskinan dari penyakit yang bernama KORUPSI.

 Generasi sekarang adalah generasi yang tumbuh di tengah kepungan media digital.

 Rhenald Kasali menyebut generasi ini sebagai Cyber generation atau C generation. Remaja sekarang tidak dapat lepas dari perangkat elektronik seperti gadget, smartphone, dan handphone. Ini artinya mereka menguasai berbagai aplikasi dan teknologi untuk mengakses internet. Informasi yang terjadi sekarang dapat langsung diketahui karena kemajuan media online. Oleh karena itu, tidak mungkin menutupi kabar tentang korupsi yang dialami keluarga ataupun sanak famili.

Pengertian korupsi juga berkembang dinamis. Kalau dulu sebatas mengambil barang dan uang secara ilegal, sekarang sudah berkembang menjadi korupsi jabatan, korupsi waktu, pencucian uang dan sebagainya. Anak-anak kita sudah tahu dari pelajaran PPKn di sekolah dan sering mendengar kampanye antikorupsi dari KPK, Kejaksaan, kalangan LSM, dan sebagainya. Kejahatan kerah putih yang membuat negara menjadi rugi dan mendukung naiknya angka kemiskinan.

Masalahnya kalau orang tua belum mengerti akan korupsi, maukah orang tua mendengar penjelasan dari anak terutama yang telah SMA. Mungkin gengsi dan merasa digurui atau anak dianggap berani sama orang tua.

Mindset orang tua seharusnya terbuka dan mau mengembangkan diskusi dengan anak terutama berapa besar gaji orang tua dan pengeluaran rutin keluarga.

 Sudah harus dimulai anak diperkenankan menanyakan tidak hanya pekerjaan tapi juga berapa gaji orang tua, apa sajakah pengeluaran rutin keluarga. Sehingga apabila anak dibelikan sesuatu yang dirasa mahal atau di luar kemampuan finansial orang tua maka seorang anak layak bertanya uang dari mana. Keluarga yang terbuka mengenai hal tersebut merupakan upaya pencegahan terhadap korupsi. Anak akan menghindari meminta sesuatu yang di luar kemampuan ekonomi orang tua. Kekompakan ini membuat orang tua mengembangkan sikap jujur, tidak serakah, amanah, proporsional sesuai dengan hak dan kewajibannya dalam bekerja.

 Apabila di Indonesia setiap keluarga mengembangkan keterbukaan finansial dan diskusi antikorupsi dengan dukungan anak, maka Indonesia akan sulit menemukan adanya kasus korupsi.

 Sebaliknya, apabila orang tua tertutup atau menutup diri mengenai hal tersebut maka bahaya laten korupsi sedang mengintai. Mungkin tinggal menunggu kesempatan. Apabila orang tua korupsi, tentunya keluarga yang akan menanggung kerugian dan rasa malu. Kerugian harus mengembalikan dan mengganti uang yang dikorupsi dan menanggung malu atas kejahatan luar biasa ini. Anak akan terbebani masalah dan beban merasa malu dalam pergaulan. Ini adalah bentuk sanksi sosial. Belum lagi kalau pelaku korupsi jadi dimiskinkan tentunya akan berimbas langsung kepada anak yang tidak bersalah.

“Sepandai-pandai orang menyimpan bangkai akan ketahuan juga”. Sepandai-pandai orang menutupi kasus korupsinya maka akan ketahuan juga.

 Demikianlah, keberanian seorang anak remaja yang disertai dengan sopan dan santun meminta orang tua terbuka mengenai pekerjaan, berapa besar gaji dan jumlah pengeluaran rutin keluarga akan menghindarkan dari bahaya laten korupsi. Sikap remaja ini merupakan wujud pengabdian kepada orang tua, bangsa dan negara. Wujud bela negara orang tua kepada negara dapat salah satunya dapat diwujudkan dengan tidak korupsi. Say no to corruption.

Anak-anak negeri ini akan mendukung pembangunan seribu jeruji penjara untuk membersihkan negeri ini dari tindakan kelam bernama korupsi daripada mendukung pembangunan gedung baru wakil rakyat yang dapat menjadi sarang korupsi baru. Apabila pencegahan korupsi sudah mencapai tujuannya, kita jadikan seribu jeruji penjara di negeri ini sebagai museum untuk mengingat tindak korupsi para pendahulu kita. Sehingga remaja nantinya akan menjadi generasi cyber yang memimpin negeri ini dengan semangat antikorupsi.

Esai ditulis oleh Rochimudin. SMA Negeri 5 Semarang – Jawa Tengah.

Leave a Reply