Jungkir Balik Mendidik Generasi Terbaik

Mendidik generasi sekarang berbeda dengan mendidik generasi pada masa lalu. Hal ini karena situasi, kondisi dan tantangan jaman yang berbeda. Keadaan bangsa yang berbeda juga menuntut tantangan yang tidak sama. Semangat kebangsaan berbeda orientasi dan tantangannya namun sama nafas dan filosofinya yaitu untuk perubahan dalam rangka kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara tercinta. Suara untuk kebaikan di perlukan untuk perubahan, diam akan menambah lama terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik.

Pengalaman Mendidik Bangsa

Para tokoh dan pahlawan negeri ini seperti Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dan sebagainya menjadi guru atau pendidik ketika masa pembuangan menjalani hukuman dari penjajah Belanda. Beliau-beliau sadar bahwa pendidikan menjadi investasi terbesar sepanjang jaman. Cita-cita, tujuan dan harapan akan terwujud dengan pendidikan yang bermakna. Ini yang sering kita lupa sekarang ini.

Lihatlah para tokoh pahlawan bangsa kita, M. Hatta, Jenderal Sudirman, Ki Hajar Dewantara, Sri Sultan HB IX, Adam Malik, dan sebagainya. Mereka pernah menjadi guru atau pendidik dengan penuh semangat dan pengabdian bagi bangsa. Tanpa berpikir keuntungan bagi diri atau kelompok, beliau hanya berpikir untuk bangsa Indonesia yang merdeka dan lebih baik. Para pemimpin atau presiden kita, Soekarno, Soeharto, Habibi, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi. Semuanya dilahirkan dari pendidikan oleh pribadi-pribadi guru dan orang tua yang berkarakter dengan proses penuh makna dan visibel.

soekarno-mengajar
Bung Karno mendidik bangsa dengan memberantas buta huruf (dok: strez.wordpress.com)

Generasi sebelum 1945 telah dilahirkan untuk berjuang mencapai titik emas kulminasi perjuangan yaitu kemerdekaan sebagai pintu gerbang negara Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Selanjutnya generasi 1945 – 1966 bertugas mempertahankan kemerdekaan dan NKRI dengan perjuangan fisik dan pembangunan negeri. Bung Karno, Bung Hatta dan sebagainya telah tampil dengan cemerlang untuk mempersatukan negeri.

Generasi 1966 – 1998 memiliki peran melaksanakan pembangunan dengan tetap menjaga keutuhan negara dan kedamaian masyarakat. Selanjutnya generasi 1998 – sekarang berperan dalam melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya dalam mengisi kemerdekaan dan tetap menjaga bangsa dari disintegrasi dan separatisme.

Keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur secara sama, sekali lagi hal ini bergantung dari situasi, kondisi dan tantangan jamannya masing-masing. Setidaknya ada tongkat estafet yang harus diteruskan dan dijaga oleh generasi sekarang yaitu menjaga, merawat dan melestarikan bangsa ini. Kondisi bangsa Indonesia sekarang ini patut kita syukuri berada dalam kondisi yang aman, damai, toleransi, dan demokratis. Nah, bagaimana mensyukuri nikmat kebangsaan ini?

Reformasi 1998

Tahun 1995, saya menginjakan kaki di kampus IKIP Semarang sebagai mahasiswa kependidikan denga jurusan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Sebuah proses panjang yang akan saya pelajari untuk menjadi seorang guru dengan menjadi mahasiswa yang berusaha bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat. Situasi, kondisi dan tantangan bangsa dan negara sejak tahun 1995 begitu memerlukan perubahan untuk perbaikan menjadi bangsa dan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Beberapa pergolakan kaum muda mahasiswa mulai dari kampus-kampus terlebih lagi menjelang pemilu 1997. Kami berpikir bagaimana caranya agar pemilu 1997 dapat menjadi jembatan mewujudkan kepemimpinan baru (suksesi) yang akan membawa reformasi bangsa dan negara ini berjalan. Saya terlibat dalam gerakan-gerakan diskusi membahas pemikiran reformasi yang terbaik untuk bangsa ini.

Ternyata sistem dan hasil pemilu 1997 tidak berubah, tidak terjadi suksesi kepemimpinan dan partai pendukung pemerintah yang status quo dan anti perubahan menang mutlak. Maka sudah dapat ditebak tak ada lagi perubahan untuk bangsa. Namun gerakan mahasiswa untuk mewujudkan reformasi tidak putus asa. Bertepatan dengan situasi krismon (krisis moneter) awal 1998, gerakan reformasi dari pemikiran berubah menjadi aksi gerakan mahasiswa di jalan (parlemen jalanan). Sebagai mahasiswa IKIP Semarang yang kampusnya berada jauh dari pusat ibukota Semarang tidak menyurutkan semangat untuk berjuang untuk perubahan bangsa ini.

Apalagi sejak bulan Februari 1998, saya diberi amanah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas. Saya mengkoordinasikan ketua senat fakultas yang lain untuk terlibat dalam aksi diskusi dan parlemen jalanan dengan long march dari Kampus Sekaran ke Gedung DPRD Jateng. Berhari-hari aksi ini dilakukan dengan semangat kebangsaan yang ikhlas tanpa disponsori oleh pihak manapun, bahkan kami harus iuran dan membuka kotak amal reformasi untuk membiayai aksi gerakan mahasiswa kami. Satu komando satu tujuan, kami bergerak dengan dukungan civitas akademika turun ke jalan.

Ada satu hal pengalaman yang membuat kami terharu dan meneteskan air mata. Ketika aksi bergerak dari kampus ke DPRD di jalan Pahlawan, hampir sepanjang jalan masyarakat yang rumahnya di pinggir jalan memberi kami air mineral. Penjual-penjual gorengan dan snack memberi kami gratis makanan kecil, bahkan ketika dibayar mereka tidak mau dengan alasan simpati.

Akhirnya tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari kursi presiden. Kami menganggap awal reformasi sudah tercapai, selanjutnya kami mengawal proses reformasi sampai penyelenggaraan pemilu 1999 terwujud.

Salah satu masalah bangsa yang belum banyak terselesaikan di era reformasi yaitu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Penyelesaian kasus-kasus korupsi menghadapi tantangan besar baik dari personal/oknum maupun kepentingan politik elit institusi (dok gambar: matanews.com)

Bersiap menjadi Guru

Setelah tahapan awal reformasi tercapai, saya memfokuskan kembali kuliah dan segera wisuda. Sebelum wisuda saya sudah ditawari untuk menjadi guru di sebuah SMA swasta. Inilah tempat saya mengabdi pada bangsa ini di jalur pendidikan. Sebuah idealitas dan cita-cita mengalir bagaimana menjadikan anak bangsa ini menjadi sebuah generasi yang mampu memegang tongkat estafet menjaga, merawat dan melestarikan bangsa dengan upaya nyata sebagai rasa bersyukur terhadap nikmat kebangsaan Indonesia. Sehingga pada saatnya mampu menjadi pemimpin yang amanah atau menjadi generasi yang dapat dipimpin dengan baik.

Tantangan Generasi Baru

Mendidik di SMA akan menghadapi anak bangsa dengan latar belakang yang berbeda baik secara horizontal (faktor ekonomi) maupun vertikal (faktor kenaekaragaman suku, etnis, agama, kelompok, dsb). Ditambah lagi dengan sikap masa remaja yang masih suka mencoba-coba, usil, dan butuh tantangan). Menghadapi hal ini serupa dengan menghadapi kondisi bangsa kita yang bhinneka.

Generasi sekarang adalah sebuah generasi gadget atau C generation menurut Rhenald Khasali, yaitu generasi yang tidak bisa dilepaskan dari gadget seperti HP, tablet, Iphone, dll. Mereka adalah generasi teknologi yang tidak mudah percaya sebelum memiliki pembuktian. Berani menyanggah, mendebat dan bertanya kepada guru sampai akal dapat menerima.

Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi merupakan sebuah solusi penggunaan media gadget, laptop, tab, dll sehingga memudahkan siswa dan lebih banyak sumber belajarnya (dok: pribadi)

Tantangan pergaulannya berbeda dengan jaman dulu. Ada ancaman narkoba, pergaulan bebas, pornografi, hedonisme, tayangan kekerasan, internet, dsb. Ancaman besar ini juga sebanding dengan tantangan seperti profesi yang beragam dan futuristik, industri kreatif, seni dan olahraga, ilmuwan, programer, dsb.

Kehidupan sosial merupakan sikap yang mendapatkan perhatian karena C generation ini memiliki kecenderungan apatis, antisosial, individual, suka mengelompok (geng), kurang perhatian orang tua, dan kurang kuat menghadapi beban pribadi.

Upaya Penanganan

Mendidik generasi baru membutuhkan persiapan yang luar biasa agar dapat tampil di kelas maupun pergaulan sehari-hari dengan baik. Bayangkan guru harus dapat menjadi pendidik, orang tua siswa, teman atau sahabat baik di dunia nyata maupun internet, di dalam maupun luar sekolah. Maka benar bahwasanya guru menjadi teladan dan sentral perhatian semuanya, baik orang tua, masyarakat, pemerintah, dan media massa. Untuk mempersiapkan tampil seperti itu yang prima di bawah sorotan komentar dan tinta media massa, rasanya harus jungkir balik dengan prinsip menghindari mala praktik di dunia pendidikan. Semua kuusahakan demi bangsaku yang kucintai dan kubanggakan.

Contoh yang Baik

Berangkat pagi sudah menjadi kebiasaanku dan masuk kelas sesuai jadwal dilakukan untuk memberi contoh tertib waktu. Budaya tertib waktu bagi bangsa ini masih harus dibudayakan dan menurut saya cara yang paling ampuh yaitu dengan memberi contoh yang baik. Nasehat kita akan diikuti apabila kita sendiri melaksanakannya. Tapi saya memiliki kendala sebab ada siswa yang bertanya, mengapa para anggota DPR banyak yang telat sidang atau malahan tidak hadir saat sidang padahal mereka diutus rakyat dan digaji pakai uang rakyat? Maka saya jawab, contohlah anggota-anggota DPR yang baik, yang benar-benar amanah dan istiqomah.

Situasi di kelas dengan siswa yang beraneka ragam latar belakang (berbeda suku, etnis, agama, kelompok, dan faktor ekonomi) membutuhkan pengelolaan yang baik tanpa menyinggung salah satu. Oleh karena itu semuanya diperlakukan sama tanpa membedakan latar belakang. Tidak ada satu suku atau kelompok yang dianggap lebih. Tidak ada pilih kasih disini. Yang membedakannya adalah sikap, amal dan ibadahnya. Hal ini kulakukan agar semua siswa berlomba-lomba dalam kebaikan dan taqwa.

Berprestasi

Berprestasi di bidang sesuai dengan kemampuan dan ilmunya ditanamkan agar semangat berkompetisi tumbuh sejak dini. Semangat berkompetisi perlu dipupuk bagi bangsa kita. Hidup pada dasarnya penuh dengan persaingan. Demikian juga bangsa dan negara kita akan bersaing dengan negara lain. Coba kita lihat event olahraga seperti sea games, olimpiade, seni, dll. Ini adalah kompetisi yang jelas. Negara kita akan berkompetisi dengan negara lain misalnya dalam bidang ekonomi melalui kemempuan fiskalnya, bidang sosial budaya melalui industri kreatif dan SDM, dan bidang hankam melalui kemampuan militer dan alutsistanya.

Persaingan siswa di kelas, sekolah maupun antarsekolah harus dipastikan oleh guru atau kepala sekolah berlangsung dengan fair dan sesuai aturan. Kecurangan akan memberikan contoh pendidikan karakter yang buruk. Apa jadinya kalau ketidakjujuran sudah dipraktikan sejak dini bagi bangsa kita. Maka kasus kecurangan pemilu, money politik, plagiat, dan KKN akan merajalela.

Putra Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Muhammad Zinedine Alam Ganjar, meraih prestasi
membanggakan dengan memenangi medali emas lomba sains di Korsel.
Hal itu membanggakan orang tua sekaligus bangsa Indonesia di mata dunia (dok: mediaindonesia.com).

Toleransi

Toleransi antarumat seagama dan antarumat beragama merupakan ciri khas kehidupan beragama di Indonesia. Ini adalah sikap yang sangat penting sehingga konflik dapat dihindari. Siswa perlu pemahaman bahwa agama yang dianut umatnya adalah benar dan paling baik bagi umatnya sehingga bagi umat beragama lain hindarkanlah mencampuradukan ajaran agama terutama yang berbeda agama. Apabila mencari benarnya sendiri maka tidak ada toleransi sehingga diperlukan sikap sabar, jangan mudah dihasut, musyawarah, dan utamakan persatuan bangsa. Kita disegani bangsa lain salah satunya karena berhasil dalam kehidupan yang bertoleransi bahkan menjadi contoh bagi negara-negara lain.

Potensi terjadinya konflik antarumat beragama sangat minim karena terjalinnya dialog dalam forum komunikasi
antarumat beragama sebagaimana di Kalimantan Timur (dok: ciputranews.com)

Kerja Keras

Ketika pembelajaran di kelas maupun di luar kelas, tentu mendapati soal atau tugas yang sulit. Namun siswa tidak boleh menyerah atau mencontek. Mereka harus berusaha memecahkan soal atau tugas dengan kerja keras (belajar giat). Apabila ada masalah bisa bertanya dan berdo’a untuk membantu terpecahkan. Jangan membiasakan memberi ikan dalam membantu namun berikanlah kail agar mereka dapat mengatasi masalahnya. Dengan pembelajaran kerja keras ini diharapkan nantinya kita menjadi bangsa yang suka bekerja keras dan bekerja cerdas sesuai bidang atau profesinya masing-masing sehingga terhindar dari pengangguran dan menjadi bangsa yang ulet dan mandiri secara ekonomi.

Taat Aturan

Apabila ada pelanggaran tata tertib siswa diselesaikan berdasarkan tata tertib yang berlaku tanpa diskriminasi. Namun unsur pendidikan tetap diusahakan karena kita mendidik anak bangsa, bukannya menghakimi. Prinsip bahwa siswa dapat berubah sikap dan wataknya menjadi lebih baik menjadi pedoman. Unsur kompromi dan negosiasi dalam pemberian sanksi dihindari agar siswa belajar penegakan aturan dengan tegas. Aturan adalah dari kita, oleh kita dan untuk kita. Baik siswa, guru atau karyawan apabila melanggar tata terib sekolah maka akan sama mendapatkan sanksi.

Salah satu penyebab kondisi politik dan hukum kita belum seperti yang diharapkan adalah kesadaran dan ketaatan pada hukum yang masih kurang. Kalau tidak dimulai dari sekolah maka penegakan hukum di negara kita akan terlambat. Disini kita belajar bagaimana hukum menjadi panglima, tentunya hukum yang adil dan benar.

Inovatif

Siswa dididik dalam pembelajaran untuk menghasilkan suatu produk atau karya yang bersifat inovatif atau baru. Karya inovatif meskipun kecil patut kita hargai sebab berawal dari yang kecil ini dapat diperoleh hasil yang besar. Pembudayaan semangat berinovasi dan menghargai inovasi akan membuat bangsa kita kreatif dan menghasilkan produk unggul. Sudah diakui oleh bangsa manapun bahwa bangsa yang inovatif akan melahirkan para ahli dibidangnya dan mendapat lisensi atau paten dari karyanya. Hal ini berimbas pada perekonomian nasional apabila karya atau produknya diakui dan diproduksi massal.

Menyemai semangat Nasionalisme

Pendidikan merupakan tempat yang cocok untuk mensemaikan rasa nasionalisme. Di era globalisasi dan teknologi seperti sekarang, menyemai nasionalisme tidak bisa hanya dengan teori dan ajakan saja. Siswa perlu contoh nyata baik perbuatan maupun hasil. Keutuhan dan kedamaian bangsa ini merupakan hasil nyata dari semangat kebangsaan, tanpa bhinneka tunggal ika kita akan terpecah. Berbagai prestasi yang diraih bangsa ini dalam ajang olahraga, seni, kompetisi iptek, dan sebagainya membuktikan kehandalan anak bangsa yang ternyata tidak kalah dengan bangsa lain.

Pergaulan yang berbhinneka tunggal ika adalah pergaulan yang menghormati perbedaan atau pluralisme, baik perbedaan suku, agama, golongan, etnis, tingkat ekonomi, dan sebagainya. Kita akan menjadi bangsa yang besar apabila dapat mengelola perbedaan dengan menghormati dan toleransi. Hal ini telah terbukti sejak jaman kerajaan Majapahit.

Kesimpulan

Setelah berjuang saat mahasiswa mewujudkan reformasi menuju bangsa dan negara yang lebih baik, selanjutnya bagaimana mengabdikan diri menjadi guru atau pendidik yang dapat menjadi contoh bagi siswa dan masyarakat. Menjadi guru yang baik bukanlah sekadar melaksanakan amanat Undang-Undang Guru dan Dosen namun panggilan jiwa sebagai anak bangsa Indonesia.

Demikianlah upaya yang saya lakukan sebagai wujud mensyukuri nikmat kebangsaan dengan usaha dibidang pendidikan menjadi pendidik atau guru yang baik yang dapat menjadi teladan siswa khususnya dan rekan seprofesi umumnya.

Pendidikan adalah gerbang menuju bangsa yang beradab dan pribadi yang berkualitas. Maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari peradaban yang dihasilkan oleh pendidikannya. Semoga kita mendapat keberkahan dari Tuhan YME karena pandai mensyukuri nikmat kebangsaan dan terhindar dari problem kebangsaan, sehingga menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Salam Kebangsaan, MERDEKA.

Leave a Reply