Belajar Kebudayaan Menuju Indonesia Beradab dalam AEC 2015

Komunitas ASEAN 2015 atau ASEAN Economic Community merupakan hasil Kesepakatan Bali Concord II dalam KTT ASEAN ke 9 di Bali tanggal 7 Oktober 2003. Komunitas ASEAN 2015 merupakan integrasi masyarakat regional negara-negara anggota ASEAN dalam satu wadah bersama yang bersifat dinamis dan berperadaban yang akan dibentuk tahun 2015.

Komunitas ASEAN 2015 merupakan gabungan bangsa-bangsa di Asia Tenggara yang berpandangan ke depan, hidup dalam damai, stabil dan makmur, terikat dalam kemitraan dalam pembangunan yang dinamis dan komunitas yang peduli. Komunitas ASEAN 2015 dibentuk dengan 3 pilar utama yaitu Komunitas ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community baik dalam skala regional maupun global. Komunitas Politik-Keamanan ASEAN dibentuk dengan latar belakang merebaknya kejahatan lintas negara antara lain terorisme, perdagangan manusia, narkoba; masalah lingkungan hidup, meningkatnya situasi persaingan diantara negara-negara besar, isu persenjataan nuklir.

AEC 2015 (dok: sindonews.com)

Sedangkan Komunitas Sosial Budaya ASEAN mencita-citakan kawasan Asia Tenggara yang terikat dalam suatu kemitraan sebagai sebuah komunitas masyarakat yang saling peduli dengan berorientasi pada rakyat dengan prinsip:

  • 1. Mengelola dampak-dampak sosial dari integrasi ekonomi melalui pembentukan masyarakat yang lebih peduli dan berbagi.
  • 2. Meningkatkan pelestarian lingkungan hidup (enhancing environmental sustainability).
  • 3. Memperkuat identitas dan solidaritas regional ASEAN menuju terwujudnya Komunitas ASEAN 2015.
  • 4. Menghormati perbedaan budaya, bahasa dan agama yang ada di ASEAN namun tetap memupuk berbagai kesamaan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity).

Empat bulan lagi sejak bulan September 2014 ini, kita akan memasuki pergaulan regional masyarakat ASEAN. Kemudahan keluar masuk warga negara di negara anggota ASEAN akan terjadi seiring dengan pembebasan visa. Bukan hanya arus manusia yang masuk, namun juga barang (produk) dan budaya akan saling berinteraksi.  Disinilah terjadi proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat Indonesia. Proses belajar kebudayaan ini, menurut Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi (1986:227) meliputi:

1. Internalisasi (internalization)

2. Sosialisasi (sosialization)

3. Enkulturasi (enculturation)

Ada juga proses perkembangan kebudayaan dan bentuk-bentuk kebudayaan yang sederhana hingga bentuk-bentuk kebudayaan yang makin kompleks yaitu evolusi kebudayaan. Kemudian ada proses penyebaran kebudayaan yang secara geografis terbawa oleh perpindahan bangsa-bangsa atau etnis yang disebut dengan proses difusi (diffusion).

Proses lain adalah proses belajar unsur-unsur kebudayaan lain atau asing oleh masyarakat kita yang dikenal dengan akulturasi dan asilimlasi. Disinilah terjadi proses pembauran atau inovasi yang nantinya erat kaitannya dengan penemuan baru (discovery dan invention).

Proses-proses kebudayaan sebagaimana di atas akan dapat berlangsung dengan cepat karena dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi komunikasi beserta perangkatnya. Arus globalisasi dan keterbukaan dalam berbagai bidang akan menambah kuatnya proses interaksi budaya.

Internalisasi

Internalisasi merupakan proses panjang individu sejak dilahirkan sampai ia hampir meninggal, dimana ia belajar menanamkan dalam kpribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya (Koentjaraningrat, 1986:228). Dalam proses internalisasi, seseorang akan mengenal nilai-nilai dan norma yang berlaku dari lingkungan terkecilnya di keluarga sampai yang lebih luas seperti masyarakat bangsa.

Nilai, norma dan budaya Indonesia yang telah tumbuh di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara yang tercermin dalam budaya nasional akan mendasari orang tersebut. Namun dalam pergaulan dengan budaya asing, bisa saja nilai budaya nasional akan tergerus atau malahan lebih kuat. Hal ini tergantung tingkat internalisasi dari tiap individu dalam mengamalkan nilai dan norma yang berlaku.

Proses Sosialisasi

Dalam proses sosialisasi ini, setiap individu akan belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan berbagai macam individu di lingkungannya yang beraneka ragam peranan sosial. Dengan proses sosialsisasi ini setiap individu dapat mengenal  budaya yang ada disekitar meskipun budaya itu berbeda dengan latar belakang daerah asal atau orang tuanya. Dalam proses ini setiap individu diharapkan hanya mengenal atau mengetahui budaya yang ada disekitar kehidupannya.

Enkulturasi

Dalam proses ini setiap individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidap dalam kebudayaannya. Istilah yang lebih mudah untuk meyebut enkulturasi adalah pelembagaan atau institusionalisasi. Sebagai contoh, misalnya seorang Indonesia mempelajari aturan adat Indonesia yang menganjurkan agar kalau orang Indonesia bepergian ke suatu tempat yang jauh maka memberi oleh-oleh kepada kerabat dan tetangganya yang dekat. Disini ada rasa aman bahwa ia dapat berhubungan dengan baik, gotong-royong, sesuai norma, dan guyub rukun.

Serangkaian proses di atas akan terjadi sehingga perlu dikembangkan sikap seperti toleransi atau tenggang rasa, sabar dan pengendalian diri, bersatu dalam keaneka ragaman, dan mementingkan persaudaraan. Kita harus menyiapkan diri secara individu maupun bersama. Budaya asing dari ASEAN yang positif yang dapat memperkuat budaya nasional dan kepribadian bangsa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila akan kita filter yang selanjutnya dapat diterima untuk diterapkan. Sedangkan budaya yang tidak positif dan merugikan budaya nasional akan kita tolak namun tentu harus dengan cara beradab dalam penolakannya.

 Remaja Korea dan Jepang antusias belajar budaya Indonesia (www.outube.com)

 

Beradab merupakan sikap dan pola pikir yang dewasa dalam bertindak dan berperilaku dalam pergaulan regional dan global menuju ASEAN Economic Community tahun 2015. Semoga kita dapat menjadi tuan rumah yang baik khususnya di negeri sendiri. Jangan sampai kita menjadi penonton ataupun tamu dinegeri sendiri. Mari kita siapkan diri dan masyarakat menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. JANGAN DIAM SAJA, BERGERAK MENGHADAPI TANTANGAN.

Leave a Reply