• Sejimpit Beras Membawa Perubahan

    Aku dan Ibu Siti bergegas melangkahkan kaki berjalan menuruni tangga dan menyusuri lorong selasar rumah sakit untuk segera membeli nasi bungkus. Aku membeli dua bungkus nasi untuk dimakan kami berdua yaitu aku dan bapak. Sedangkan Ibu Siti yaitu seorang ibu yang juga menunggui suaminya yang sedang mondok opname juga di sebelah kamar bapak. Kulihat apa yang dibelinya, ternyata ia hanya membeli sayur dan lauk pauk.

    Ketika siang hari sekira jam 12.00 WIB, aku mulai lapar dan segera pergi untuk membeli nasi bungkus. Seperti biasa, Ibu Siti titip untuk dibelikan sayur dan sedikit lauk. Aku berpikir mengapa tidak pakai nasi, apa dapat kenyang? Setelah kembali ke bangsal dan makan nasi bungkus, ku beranikan untuk bertanya,”Maaf Ibu, kok tidak pernah membeli nasi, apakah sedang diet atau perintah dokter?” Pelan-pelan aku bertanya agar tidak menyinggung perasaan. [Read More…]

  • Jangan diam, Bom Waktu Itu Dibawa Anak-Anak Jalanan

    Kini sedang tumbuh sebuah generasi baru yang akan mengubah dunia menjadi berbeda sama sekali dengan sebelumnya.

    Itulah analisis prediksi tentang masa depan yang dikemukakan oleh Don Tapscott dalam Growing Up Digital (dimuat dalam Revolusi Belajar, Dryden dan Jeannette Vos, 2003:82). Sebuah prediksi yang tepat sebab generasi baru memang selalu hadir namun ada masa tertentu jika generasi itu berbeda dan lebih baik daripada masa sebelumnya.

    M. Nuh, mendikbud pada pada masa pemerintahan SBY pernah mengatakan bahwa menjelang 100 tahun Indonesia pada tahun 2045, kita diberi bonus demografi yaitu banyaknya usia produktif yang akan menggantikan generasi sebelumnya dan memimpin bangsa dan negara dengan lebih baik karena sudah disiapkan sejak sekarang. [Read More…]

  • Teman yang Membahagiakan

    Teman adalah pembawa rejeki juga bisa menjadi pembawa petaka, benarkah?
    Setiap orang tentu memiliki teman atau kawan namun pernahkah kita berpikir bagaimana kita dapat membahagiakan teman kita atau bagaimana agar teman kita bisa membahagiakan kita, minimal tidak menjadi pembawa petaka bagi kita. Kita hidup dalam masyarakat yang berbeda-beda baik berbeda latar belakang secara horizontal seperti berbeda suku, adat, agama, etnis, dan semacamnya. Berbeda secara vertikal seperti tingkat pendidikan, mata pencaharian, status sosial, asal sekolah, dan sebagainya.

    Perbedaan itu realitas, kenyataan hidup. Berteman adalah kebutuhan sosial. Kita hidup dan berkembang di tengah perbedaan masyarakat. Dengan kemampuan menyesuaikan diri dan bijaksana kita dapat menyatu dan berinteraksi dengan baik. Jangan berpikir dan berharap orang lain atau teman akan membahagiakan kita sebab apabila meleset maka kita akan sakit hati atau berprasangka buruk. Tetapi berpikir dan berkomitmenlah bahwa kita dapat membahagiakan teman kita. Dengan begitu kawan kita akan semakin bertambah dan senang bergaul. Banyak teman yang baik maka banyak rejeki. Kita mudah mencari teman yang dapat bersenang-senang namun sulit mencari teman yang dapat merasakan suka dan duka yang kita alami.

    Akhirnya semoga kita dapat menjadi teman yang dapat membahagiakan orang lain. Teman yang baik adalah harta sosial yang bernilai. Mari berusaha merubah diri menjadi sosok teman atau pribadi yang terbuka atau baik sehingga berkontribusi bagi perubahan negeri dan masyarakat yang kita cintai.